DPRa PKS Beji

Bersih Peduli Professional

Benarkah PKS Bermuka Dua?

Posted by pksbeji pada September 24, 2008

INILAH.COM, Jakarta – 24/09/2008 19:31 – Malikul Kusno & Ahluwalia – Kenapa PKS mengkritik Presiden SBY? Padahal, SBY sabar menghadapi lawan-lawan politiknya. Ada apa? Adakah PKS lupa ia bagian integral koalisi SBY-JK dan Kabinet Indonesia Bersatu? Sebuah perenungan untuk politisi PKS.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) selama ini dikenal sebagai partai Islam yang konsisten memegang prinsip politik dan etikanya. Namun, dalam perkembangan terakhir, kadang-kadang PKS bersikap inkonsisten. Bahkan, partai yang diisi kader-kader muda itu mengkritik pemerintah SBY yang dianggap emosional dalam menghadapi lawan-lawan politiknya. Benarkah SBY emosi menanggapi lawan politiknya?

Menanggapi keinginan Ketua Umum Komite Bangkit Indonesia Rizal Ramli dan mantan Ketua MPR Amien Rais yang ingin menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Fraksi PKS menilai hal itu wajar.

Ketua FPKS Mahfudz Shiddiq menilai pemerintah SBY yang selama ini terlihat sebagai sosok yang kalem. Sehingga, ia dituntut untuk lebih lapang dada menerima siapapun calon kompetitornya.

“Jangan sampai SBY terlihat emosi. Kalau perlu kompetitornya diberi masukan bagaimana caranya bisa menang dalam Pilpres. Masalah menang-kalah itu urusan belakang,” katanya Shiddiq.

Dalam kacamata pengamat politik UGM, Sigit Pamungkas, sikap PKS yang mengkritik pemerintah itu berwajah dua. Sebab PKS adalah bagian dari koalisi pemerintah juga.

Dalam ilmu politik, gejala ini disebut sebagai officiding type. Apa itu? Tipe partai politik yang hanya mencari kekuasaan saja. Ada kecenderungan mencari posisi aman menurut persepsi dirinya.

“Apalagi menjelang Pemilu 2009 ini sikap-sikap politik seperti ini seringkali menonjol,” katanya.

Sebagai mitra pemerintah, selama ini PKS tidak pernah fokus terhadap kebijakan pemerintah. Sebaliknya tujuan-tujuan politiknya lebih tampak hanya untuk memperluas kekuasaan. “Maka koalisi apapun oleh PKS tidak akan pernah kuat. Sebab PKS bermain dua muka, berwajah ganda,” tutur Sigit, dosen UGM.

Meski kader-kader PKS memiliki pendidikan yang relatif tinggi, hal ini tidak menjamin tingginya pemahaman mereka terhadap politik. Buktinya, PKS masih rendah dalam memahami fatsun politik yang dilakukan pemerintah.

“Dengan melakukan kritik, PKS sesungguhnya telah menghina dirinya sendiri. Kalau mau konsisten, PKS harus keluar dari koalisi pemerintahan SBY-Kalla,” kata Sigit.

Sementara itu pengamat politik UIN Jakarta Nanang Taqiq mengatakan kritik PKS tidak pada tempatnya. Pasalnya, partai itu masih berada di lingkaran pemerintahan. Mereka masih tergabung dalam koalisi kerakyatan yang mendukung duet pemerintahan SBY-JK.

“Kritik PKS ini menimbulkan ambiguitas. Di satu sisi pro pemerintah, di sisi lain kontra pemerintah,” kata Nanang.

Seharusnya pemerintah tegas mengambil sikap terhadap kaum opisisi yang ada di pemerintahan. Apalagi kita menganut sistem presidensial.

“Dalam hal ini, ketegasan pemerintah mestinya harus muncul, kalau pemerintah tidak ingin gagal. Namun tampaknya SBY lunak ke PKS. Itu membuat PKS bisa mengkritik pemerintah sambil jadi bagian dari pemerintah, dari koalisi kerakyatan,” tutur Nanang, master lulusan McGill University, Kanada. [I4]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: