DPRa PKS Beji

Bersih Peduli Professional

PKS Wajib Hindari Arogansi; PKS: Antara Mabuk Kemenangan dan Mawas Diri (3-Habis)

Posted by pksbeji pada Agustus 11, 2008

Tifatul Sembiring

Tifatul Sembiring

INILAH.COM – Ahluwalia – 11/08/2008 22:32 – Sebagai parpol yang mulai punya pengaruh besar, seluruh kader PKS hendaknya menjauhkan diri dari arogansi, apalagi korupsi. Seberapa pun hebatnya, mereka tetap harus mengedepankan sikap santun dan mawas diri.

Sikap santun, empati, dan menghargai perbedaan selama ini merupakan nilai-nilai etis yang dikembangkan PKS. “Karena itu, jika ingin unggul di belantika politik republik ini, PKS tak boleh arogan. Mereka justru harus tetap santun dan mawas diri,” kata Airlangga Pribadi dari FISIP Unair Surabaya.

Tampaknya, sejauh ini, pernyataan Presiden PKS (Partai Keadilan Sejahtera) Tifatul Sembiring agar jago-jago tua tidak lagi maju ke Pilpres 2009 telah menimbulkan kesan arogan di kalangan masyarakat politik.

Meski pernyataan Tifatul itu lebih dimaksudkan agar kaum muda bangkit dan capres-capres berusia di bawah 50 tahun berani maju, hal itu tetap ditafsirkan Megawati Soekarnoputri dan kader PDI-P berbau arogansi.

Pernyataan Tifatul juga telah diartikan mengesampingkan generasi tua dalam perpolitikan nasional. Tak heran jika Megawati mempersilakan Tifatul maju sebagai capres meski hal itu sebagai ‘olok-olok politik’ belaka.

Tentang pernyataan Tifatul itu, Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengingatkan, dikotomi tua muda tak relevan dan malah bisa memecah belah kekuatan sosial Indonesia sebagai suatu bangsa.

Tifatul sendiri yakin bahwa bangsa ini menginginkan kepemimpinan Indonesia dipegang kaum muda sehingga masalah bangsa ini lebih cepat terselesaikan. PKS menggagas munculnya pemimpin balita, yaitu pemimpin berusia di bawah 50 tahun. Sebab, menurutnya, usia produktif bangsa Indonesia ada di kisaran 30-50 tahun.

PKS mengusulkan patokan usia bukan hanya untuk posisi presiden dan wapres, tapi juga para menterinya. Di matanya, persoalan bangsa yang berat ini tidak bisa diserahkan kepada orang-orang yang tergolong sudah tua. “Masalah kelaparan, kemiskinan dan sebagainya memerlukan syaraf-syaraf orang muda,” kata Tifatul.

Tentu, tak sepenuhnya pernyataan Tifatul keliru. Juga bukan kebenaran absolut. Sebab, pada dasarnya, ukuran tua atau muda tak semata dihitung dari usia. Jauh lebih penting adalah semangat, kesungguhan, kapabilitas, dan moralitas. [Habis/E1]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: