DPRa PKS Beji

Bersih Peduli Professional

Jalur Populer PKS, SBY, dan Mega

Posted by pksbeji pada Agustus 1, 2008

INILAH.COM, Jakarta – 01/08/2008 14:29 – Gigin Praginanto – Intrik politik, kadang menjemukan, bahkan menjijikkan. Bukan tak mungkin, orang tak peduli lagi siapa Presiden RI, suatu ketika. “Emang gue pikirin,” kata mereka.

Arbi Sanit

Arbi Sanit

Sekarang ini keadaan memang belum seekstrim itu. Tapi dalam soal menteri, keadaan sudah sangat mendekati. Lihat saja, kini tak gampang mencari orang yang hapal di luar kepala susunan kabinet secara lengkap. Mungkin hanya nama presiden dan wakilnya yang mereka hapal, meski belum tentu bisa menuliskannya secara benar.

Tapi bagi para politisi dan partai politik, keadaan sungguh sangat berbeda. Bayangkan, hasil survei Indonesian Research and Development Institute (IRDI) membuktikan, satu-satunya parpol yang nama ketua umumnya diketahui mayoritas orang dewasa adalah PDI-P, yaitu Megawati Soekarnoputri.

Mayoritas respondennya survei ini juga tak mengetahui siapa ketua umum Partai Demokrat dan Golkar. Padahal kedua parpol inilah yang mengusung Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla menjadi presiden dan wakil presiden RI!

Hasil survei itu sungguh bertolak belakang dengan ingar-bingar di arena politik yang tahun ini saja telah menelan dana triliunan rupiah. Sebuah kenyataan yang agaknya bisa dilihat sebagai kejenuhan masyarakat pada politik, yang belakangan ini main kerap diharubirukan oleh berbagai skandal seks dan suap.

Bahkan iklan, yang kini menjadi media favorit para politisi untuk memburu popularitas, menurut hasil survei itu, terbukti tak cukup efektif. Kenyataan ini tampak klop dengan pendapat pengamat politik dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit, bahwa masyarakat sebenarnya tak menggubris iklan politik yang kini bertebaran di seluruh Indonesia.

Ini karena, menurut Arbi Sanit, masyarakat menganggap iklan-iklan tersebut sebenarnya bagian dari upaya para politisi untuk mengelabui para pemilih. Apalagi iklan-iklan itu hanya berisi sisi baik dari politisi yang bersangkutan. “Kompetensi dan integritas dari para pengiklan itu sama sekali tak muncul,” katanya.

Menjadi tokoh politik di zaman demokrasi ini memang tidak gampang. Apalagi di tengah merosotnya citra politisi sebagai wakil rakyat, dan kerinduan masyarakat pada kejujuran. Sebuah kenyataan yang telah dimanfaatkan dengan baik oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Dengan membangun citra sebagai kumpulan para politisi jujur melalui jaringan komunikasi massa yang bertumpu pada mesjid dan perkumpulan pengajian, PKS berhasil memiliki pendukung loyal terbesar dibandingkan semua pesaingnya. Survei Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan, 75,4% pencoblos PKS pada Pemilu 2004 akan memilih parpol yang sama pada pesta demokrasi tahun depan.

Ini tentu saja bisa dilihat bahwa kejujuran kini menjadi kata kunci bagi para politisi untuk menggaet dukungan masyarakat. Lihat saja, semua survei menunjukkan, kegemaran mengumbar pernyataan dan bergaya sebagai trouble shooter ternyata tak membuat seorang politisi menjadi populer.

Hasil suveri-survei tersebut membuktikan, para politisi yang paling populer adalah justeru mereka yang tergolong jarang berbicara, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri. Maka, agaknya bisa ditarik kesimpulan, masyarakat suka pada orang yang tampak jujur, melihat persoalan secara dingin, dan berhati-hati dalam berbicara dan mengambil keputusan.

Pilihan lain yang digandrungi oleh masyarakat adalah politisi berdarah ‘biru’. Ini karena masih adanya anggapan, anak pemimpin besar bisa membawa kebesaran! [I4]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: