DPRa PKS Beji

Bersih Peduli Professional

Asa di Tengah Bara PKS dan PDI-P

Posted by pksbeji pada Juli 24, 2008

Megawati Soekarnoputri dan Tifatul Sembiring

Megawati Soekarnoputri dan Tifatul Sembiring

INILAH.COM, Jakarta – 24/07/2008 08:59 – Ahluwalia & Belva SB – Berbalas komentar sudah jadi bagian dari berpolitik. Apalagi di masa kampanye. Itu pula yang terjadi di antara PKS dan PDI-P. Suhu pun memanas. Di tengahnya, menyembul asa publik yang selama ini menggantung.

‘Perang kata-kata’ itu berangkat dari pernyataan Tifatul Sembiring, Presiden PKS (Partai Keadilan Sejahtera), tentang pilihan sikap parpolnya untuk memilih tokoh berusia di bawah 50 tahun (balita) sebagai calon Presiden RI di Pilpres 2009.

Tifatul, tentu, punya argumen. Ia mengatakan, bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin muda, energik, visioner, mampu jadi trend setter, dan punya jiwa nasionalisme tinggi untuk mengatasi begitu banyak masalah yang melanda negeri ini. Pemimpin itu, menurutnya, sebaiknya berusia balita.

Kriteria usia balita itu disebut Tifatul sekaligus sebagai upaya memulai program regenerasi kepemimpinan di Tanah Air. Meski begitu, ia mengaku pernyataannya sama sekali tidak ditujukan untuk ‘membunuh’ keinginan dan peluang capres yang tidak termasuk usia balita.

Dari nama-nama yang sudah muncul dan menyatakan kesiapannya maju ke Pilpres 2009, memang, tak satu pun pas dengan kriteria usia balita seperti diapungkan Tifatul. Usia para kandidat itu sudah di atas 50 tahun.

Di antara nama-nama itu adalah Susilo Bambang Yudhoyono (kini Presiden RI dan bakal kembali diusung Partai Demokrat), Megawati Soekarnoputri (PDI-P), Wiranto (Hanura), Sutiyoso (independen), KH Abdurrahman ‘Gus Dur’ Wahid, termasuk Sri Sultan Hamengku Buwono X yang terus didorong-dorong banyak pihak agar sudi bertarung di Pilpres 2009.

Di satu sisi, lontaran kriteria usia balita dari Tifatul itu bisa saja menimbulkan ketersinggungan pihak lain, terutama mereka yang kini sudah berstatus capres. Di sisi lain, Tifatul dan PKS-nya juga harus konsekuen sekaligus konsisten dengan sikapnya.

Maksudnya jelas. Tifatul dan PKS-nya kini punya kewajiban memunculkan nama yang menurut mereka memenuhi kriteria dimaksud. Artinya, mereka tak cukup sebatas melempar kriteria tanpa merujuk pada nama yang dituju.

Dengan mengubur kebiasaan berbasa-basi, jika perlu Tifatul dan PKS-nya bersikap lebih gamblang dan gentle. Katakanlah, misalnya, mereka dengan lugas menyebutkan nama Hidayat Nuwahid (pendiri PKS dan kini Ketua MPR-RI) atau bahkan Tifatul sendiri sebagai capres dari parpol bernomor urut 8 itu.

Toh, selain diyakini punya kapabilitas untuk jadi pemimpin, keduanya juga sangat pas dengan kriteria usia balita. Hidayat kini berusia 48 tahun dan Tifatul 47 tahun. Kapasitas leadership keduanya cukup mumpuni.

Hal itu pula yang kemudian memancing Megawati angkat bicara. Sehari setelah Tifatul berucap soal kriteria usia balita di Makassar, Selasa (22/7), Mega menyatakan bahwa sebaiknya Tifatul tak sekadar melempar wacana. Mega, bahkan, juga mempersilakan Tifatul maju dan bersaing di Pilpres 2009.

Dua komentar dari dua pentolan parpol yang punya pengaruh besar di pentas politik nasional ini bak jadi pemantik suhu panas suasana kampanye menuju Pemilu 2009.

Kini, sudah terhampar ke hadapan publik adegan saling ‘sentil’ di antara dua kontestan pesta demokrasi tahun depan. Tifatul menyentil para capres yang

tidak memenuhi kriteria usia balita, Mega mewakili pihak yang tersentil pun sudah membalas sentilan itu.

Tak mustahil, hari-hari ini, para capres lain bakal ikut meramaikan. Bakal menambah bara panas suasana kampanye. Sebab, pasti, masing-masing punya argumen sendiri setiap bicara urusan negara. Semua punya hak untuk menaikan derajatnya, termasuk hak bicara.

Di sisi publik, untuk kali kesekian, hanya bisa jadi pendengar dan penonton. Paling-paling mencoba menyuarakan lewat media, parlemen, parpol, unjuk rasa, atau masuk bilik suara pada waktunya nanti. Hasil akhir dan praktiknya tetap di tangan mereka yang punya kekuatan dan kekuasaan.

Harapan dalam bentuk lain, bahkan sangat penting, adalah menunggu bukti dari para elit yang terus berlomba memperebutkan kekuasaan. Publik sudah lelah mendengar janji, konsep, wacana, kriteria, atau apapun namanya.

Publik juga sudah jengah dengan konflik, adegan unjuk kuasa di hampir setiap lini kerja, lingkaran korupsi yang terus meluas, dan inkonsistensi berbagai kebijakan para pengambil keputusan.

Kini dan ke depan, publik hanya butuh satu kata: proses yang meyakinkan untuk mencapai pembuktian. Siapa pun yang kelak jadi RI-1, RI-2, anggota kabinet, parlemen, dan sebagainya, publik pasti ikhlas. Terpenting, para petinggi itu mau dan mampu menggulirkan perubahan keadaan.

Ya, perubahan yang menjamin terselenggaranya kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik, lebih adem, lebih jujur, lebih maju, lebih sejahtera. Untuk semua. Bukan hanya bagi mereka yang berkuasa. [I3]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: