DPRa PKS Beji

Bersih Peduli Professional

Kritik PKS atas Banalitas PAN

Posted by pksbeji pada Juli 18, 2008

Andi Yuliani Paris

INILAH.COM, Jakarta – Ahluwalia – 18/07/2008 11:14 – Sejumlah artis, sekonyong-konyong, masuk ke panggung politik. Sebuah parpol mengusung banyak artis jadi calon wakil rakyat. Tiba-tiba saja. Inikah penyakit baru parpol di Tanah Air; banalitas dan oportunisme?

Rabu (16/7) malam, tiba-tiba saja sejumlah nama populer di kalangan artis menyatakan bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN). Ada Wulan Guritno, Iyeth Bustami, Marini Zumarnis, Eko Patrio, Deri Drajat, Adrian Maulana, dan Wanda Hamidah. Sebagian mendaftar sebagai caleg. Kecuali nama terakhir, tak satupun yang selama ini menunjukkan aktivitas politik yang jelas.

“Kebetulan saja, profesi mereka artis. Tapi, PAN tetap akan menggunakan sistem perolehan suara terbanyak dari daerah pemilihannya. Jadi, bukan berdasarkan nomor urut,” ujar Ketua Bidang Pendidikan dan Perempuan DPP PAN Andi Yuliani Paris.

Ini yang menarik. Mendasarkan kursi pada perolehan suara jelas akan menohok kader potensial PAN sejati. Pasalnya, sedikit banyaknya, pengumpulan suara salah satunya akan ditentukan tingkat popularitas calon. Dan, artis jelas lebih populer dibandingkan kader PAN non-artis, meski dari sisi politik kader partai lebih potensial.

Tak heran, banyak pihak yang menilai pendangkalan (banalitas) dan oportunisme kini menjadi penyakit baru parpol. Salah satunya, ya PAN. Meminjam perspektif Vaclav Havel, pendangkalan dan banalitas dalam politik merupakan tanda-tanda kemunduran .

Maka, masuk akal jika Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengkritik keras maraknya parpol, secara implisit termasuk PAN. Dalam persepsi para aktor PKS, banalitas dan oportunisme para artis yang diajukan sebagai wakil rakyat telah mengingkari politik meritokrasi dan mengkhianati profesionalitas politik yang pantas. Jadi, bukan hanya bentuk ketidakpercayaan diri parpol tersebut. Hal itu, bahkan, dinilai sebagai bentuk eksploitasi terhadap selebritas.

Ini bukan soal ‘halal-haram’ mengusung para artis ke parlemen. Ini soal bentuk telanjang dari kebodohan parpol dalam demokrasi prosedural yang makin melenceng dari amanat reformasi dan substansi demokrasi itu sendiri.

Sungguh mengkhawatirkan bahwa politik akhirnya hanya ajang mencari kursi, kuasa, uang, serta popularitas murahan. Celakanya, dalam kasus ini, PAN, salah satu parpol potensial, terjebak ke dalam pendangkalan dan popularitas murahan.

Dalam bahasa Jazuli Juwaini, anggota Tim Pemenangan Pemilu Nasional (TPPN) DPP PKS, ada kekhawatiran serius bahwa itu soal pemanfaatan dan eksploitasi dalam situasi aji mumpung, oportunisme. Maka, masuk akal pula jika PKS mencela watak aji mumpung para artis dan politisi yang berkolaborasi tanpa ideologi yang jelas itu.

Dalam hal ini, untuk kasus PAN, dengan semboyan PAN ‘hidup adalah perbuatan’, ipso facto, pengusungan artis adalah bentuk popularitas murahan yang mendistorisi ideologi perjuangan PAN. Dan, sudah pasti PAN dengan kasus ini telah mengalami pendangkalan.

Tak ada jaminan bahwa PAN bisa menaikkan kursi di parlemen dengan mengusung artis. Namun, yang pasti, PAN bisa terjebak ke dalam permainan politik yang sarat pendangkalan. Jika demikian, akan dikemanakan metafora partai bahwa ‘hidup adalah perbuatan’ untuk kebajikan dan mewujudkan sosok kenegarawanan? Sungguh paradoks dan artifisial. Banal dan dangkal. [I4]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: