DPRa PKS Beji

Bersih Peduli Professional

Bola Pemilu di Tangan Bupati

Posted by pksbeji pada Juli 17, 2008

Mobil warna hitam melaju pelan memasuki halaman rumah dinas wakil presiden, Sabtu pekan lalu. Jam dinding di gardu jaga baru menunjukkan pukul 07.00 WIB. Dari dalam mobil, muncul Letnan Jenderal (purnawirawan) Prabowo Subianto. Anggota Dewan Penasihat Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar itu bergegas menemui Jusuf Kalla, sang ketua umum.

Pada kesempatan pertemuan setengah jam itu, Prabowo berpamitan. “Ini sudah ada Partai Gerindra, maka saya mundur dari Golkar,” Jusuf Kalla menirukan ucapan Prabowo. “Selamat jalan, semoga sukses,” Jusuf Kalla menimpali. Menurut Kalla, kepergian Prabowo itu tidak akan banyak berpengaruh pada perolehan suara Golkar. “Saya kira, tidak ada pengaruhnya,” katanya.

Golkar, menurut Kalla, tetap pada tekadnya menangguk 30% suara pada Pemilu 2009. Karena itu, Partai Golkar akan benar-benar memanfaatkan sembilan bulan masa kampanye. Jusuf Kalla pun menggelar temu kader di pendopo kantor Bupati Indramayu, Jawa Barat, Ahad lalu. Dalam pidatonya yang berapi-api, ia memuji Pak Bupati yang merupakan kader Golkar itu sebagai pejabat daerah yang berhasil.

Kalla menyatakan bangga atas pencapaian pembangunan Indramayu di bawah Yasin Sidik Syamsudin, yang akrab disapa Bung Yance. Menurut Kalla, pembangunan pembangkit listrik sebesar 1.000 megawatt di Indramayu dan pembangunan jalan merupakan pencapaian terbesar selama masa kepemimpinan Yance. “Sesuai dengan namanya, Yance adalah layanan cepat,” kata Kalla, disambut gemuruh 1.000-an massa Golkar.

Kampanye Kalla yang bertempat di pendopo kabupaten itu mengundang sorotan. Wirdaningsih, anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), berjanji akan mempelajari kasus itu. “Kalau ternyata benar, ini merupakan pelanggaran administratif yang akan kami lanjutkan ke KPU untuk dijatuhi sanksi,” katanya. Repotnya, meskipun kampanye telah dimulai, Peraturan Komisi Pemilihan (KPU) tentang Pedoman Pelaksanaan Kampanye Pemilu (Legislatif) baru kelar dan belum disosialisasikan.

Sementara itu, Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary mengimbau agar Bawaslu dan masyarakat mengawasi pelaksanaan kampanye. Menurut dia, ada sanksi moral dan politik. “Sanksi moral itu mengucilkan parpol. Sanksi politik masyarakat jangan memilih parpol yang melanggar aturan,” ujarnya. Pelanggaran itu boleh jadi karena terlalu bersemangat memulai kampanye.

Jusuf Kalla mengaku tidak melakukan kampanye di pendopo kabupaten. “Saya datang bersama gubernur. Saya minta memperkenalkan diri pada massa yang tidak memilihnya. Dia kan bukan gubernurnya PKS (Partai Keadilan Sejahtera) saja,” katanya.

Golkar memang bersemangat memulai kampanye. Pada hari pertama, klip video kampanye Jusuf Kalla bertebaran di televisi. Waktu-waktu tayang yang dipilih pada periode prime time, ketika sedang banyak-banyaknya pemirsa memelototi layar kaca. Golkar pantas bersemangat, karena akhir-akhir ini “partai beringin” itu banyak mengalami cobaan. Misalnya, ditinggalkan anggota dewan penasihat, Prabowo Subianto, yang bergabung ke Gerindra, dan Wiranto yang mendirikan Hanura. Dalam sejumlah pilkada, jagoan Golkar juga kandas di lapangan.

Ironisnya, kekalahan itu dialami di kantong-kantong Golkar. Misalnya di Jawa Barat, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. Meskipun demikian, Jusuf Kalla tetap optimistis, pada Pemilu 2009, partainya akan tetap jaya. Menurut dia, ada 370 pilkada yang telah digelar. “Di kabupaten, kita (Golkar –Red.) menang 42%, provinsi menang 25%. Itu bukti bahwa Golkar di tingkat bawah sangat kuat,” ujarnya.

Dia mencontohkan Jawa Barat, meskipun jagoan Golkar tumbang, dalam pemilihan bupati menang 55%. Di Sulawesi Selatan, dalam pemilihan gubernurnya juga keok, tapi untuk pilkada di kabupaten menang sebanyak 77%. Memang Kalla mengaku kecewa atas banyaknya kekalahan pilkada gubernur. “Tentu kita kecewa, tapi kita optimistis. Insya Allah, pada Pemilu 2009 kita bisa meraih 30%. Sebagai partai, kita optimistis 2009,” katanya.

Pernyataan Jusuf Kalla bahwa Golkar masih menguasai kabupaten menunjukkan betapa penting peran bupati dalam memenangkan hajat partai politik. Sepanjang pilkada 2005-2008, Golkar memenangkan 138 pilkada, PDI Perjuangan meraup 104 kemenangan, sedangkan PKS memenangkan 54 pilkada.

Kemenangan partai politik dalam kompetisi terkait erat dengan peran bupati sebagai mesin politik penangguk suara. Dalam pilkada Jawa Tengah, misalnya, pasangan Bibit Waluyo-Rustriningsih menang di 30 dari 35 kabupaten. Bibit-Rustri hanya kalah di Blora, Kendal, Rembang, Pati, dan Jepara.

Di Blora dan Kendal, Bambang Sadono-Muhammad Adnan, calon Golkar, menang dengan perolehan 46,02% dan 35,3% suara. RM Yudhi Sancoyo, Bupati Blora, memang jagoan Golkar. Sedangkan Siti Nurmakesi adalah kader Golkar. Dia naik menjadi bupati setelah Hendy Boedoro (PDI-P) non-aktif karena terjerat kasus dugaan korupsi dana pinjaman Bupati Kendal ke BPD Cabang Kendal senilai Rp 30 milyar.

Di Rembang dan Pati, pasangan Sukawi Sutarip-Sudharto, calon dari Partai Demokrat dan PKS, keluar sebagai pemenang. Di Rembang, Sukawi-Sudharto meraup 41,52% suara dan di Pati sebanyak 34,93%. Bupati Rembang, Mochammad Salim, adalah Ketua Partai Demokrat. Sedangkan Bupati Pati, Tasiman (PDI-P), tengah sibuk dengan kasus dugaan penyimpangan APBD Pati 2003. Kesempatan itu rupanya digunakan Kartika Sukawi, wakil bupati, untuk memenangkan bapaknya dalam pemilihan gubernur di Pati.

Sedangkan Muhammad Tamzil-Rozak Rais yang diusung PPP-PAN unggul di Jepara, 27,45%. Hal ini tidak lepas dari peran Bupati Jepara, Hendro Martojo, yang merupakan kader PPP. Meskipun peran bupati/wali kota cukup penting untuk memenangkan partai politik, jika mesin politik tidak jalan, bisa saja meleset.

Misalnya Golkar yang menang dalam pemilihan bupati di Blora, Boyolali, Klaten, Purworejo, dan Kota Pekalongan. Partai ini hanya sukses memenangkan Bambang Sadono-Adnan di Blora. Selebihnya keok dari PDI-P. “Kekalahan Golkar itu karena para kadernya tidak punya militansi di lapangan,” kata Mohammad Qodari, Direktur Eksekutif Indobarometer.

Qodari mengaku, pendapatnya itu mengutip para petinggi Golkar. “Petinggi-petinggi Golkar yang saya tanyai juga mengaku begitu, tidak ada militansi di lapangan,” katanya. Menurut Qodari, hal itu terjadi karena ideologi Partai Golkar yang tidak jelas. “Mereka tidak punya ideologi, terlalu pragmatis,” ujarnya.

Menurut Qodari, PDI-P dan PKS lebih memiliki ideologi yang jelas. “PDI Perjuangan bisa dibilang ideologi Bung Karno, marhaen. Kalau PKS, Islam. Nah, Golkar ini nggak jelas,” tuturnya. Padahal, dari segi dana, Golkar tidak bermasalah. “Ini yang lucu. Ada partai yang dananya seret, tapi masih bisa jalan. Sementara Golkar dananya ada, tapi tidak jalan,” katanya.

Apalagi, menurut survei Indobarometer, popularitas Golkar terus merosot. Pada Mei 2007, popularitas Golkar masih 17,8%. Tapi, setahun kemudian, Juni 2008, popularitas Golkar anjlok jadi 12,0% saja. “Ini masalah serius. Lama-lama, Golkar akan turun jadi partai kelas menengah,” ujarnya.

Faktor lain yang menggembosi Golkar adalah hengkangnya para petinggi seperti Wiranto dan Prabowo. Berdasarkan survei Indobarometer, Partai Hanura memiliki kepercayaan publik sebesar 2,3%, lebih tinggi dibandingkan dengan PPP yang hanya 1,6%. “Kalau Partai Gerindra jadi besar, suara Golkar akan lebih turun lagi,” katanya.

Qodari menambahkan, berdasarkan perbandingan survei tahun 2007-2008, popularitas PDI-P, Golkar, dan Demokrat sama-sama turun. “Popularitas partai yang naik adalah PKS, sedangkan partai baru yang potensial menyodok baru Hanura,” paparnya.

Meskipun merosot, Golkar tetap optimistis dan memasang target tinggi. Menang pemilu legislatif 30%! Menindaklanjuti target pusat, Golkar Jawa Tengah juga mematok kemenangan 30%, meskipun pada Pemilu 2004 hanya meraup 17%. Ketua DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Bambang Sadono, optimistis bisa mewujudkan target itu. “Taruhlah dari 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah, Golkar bisa meraih 10 kursi, otomatis sudah mendekati 30%,” katanya.

Namun, untuk mewujudkan itu, diperlukan militansi di lapangan dari kader Golkar. Dan ujung tombaknya boleh jadi adalah para bupati. Justru militansi diperlihatkan bupati dari PDI-P, yang tampaknya banyak membantu memenangkan I Made Mangku Pastika-Puspayoga. Dari sembilan kabupaten, Pastika unggul di enam kabupaten. Secara keseluruhan, pasangan ini meraup suara sekitar 56%.

Pastika gagal meraup suara mayoritas di Kabupaten Karangasem, Gianyar, dan Jembrana. Cokorda Budi Suryawan, jagoan Golkar, meraup 43,43% suara di Karangasem dan 53,35% di Gianyar. Kemenangan Cokorda di Gianyar terjadi karena dia mantan Bupati Gianyar. Apalagi, penggantinya, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, adalah jagoan Golkar. Sedangkan kemenangan di Karangasem tidak lepas dari peran I Wayan Geredeg, bupati yang merupakan kader Golkar.

Namun, dalam pilkada Bali, jagoan Golkar kalah di Kabupaten Badung. Padahal, Bupati Badung, A.A. Gde Agung, adalah kader Golkar. Sedangkan di Jembrana, I Gede Winasa, mantan Ketua Cabang PDI-P yang menyeberang ke Partai Demokrat, lalu nekat maju lewat melalui Koalisi Kebangkitan Bali (Koalisi Belasan Partai Kecil), menang telak 73,34% di kampungnya. Rupanya, figur sebagai Bupati Gianyar cukup berpengaruh untuk meraih kemenangan itu. Di luar Jembrana, perolehan Winasa ambrol.

Kekalahan Golkar di Bali mungkin sudah diprediksi. Dari sembilan kabupaten, mereka hanya menguasai tiga. Sisanya milik PDI-P. Namun kekalahan di lumbung Golkar di Nusa Tenggara Barat (NTB) mungkin cukup mengagetkan. Untuk pilkada NTB, Golkar menjagokan Lalu Serinata, gubernur dan Ketua DPD Golkar NTB.

Lalu Serinata-Husni Djibril masuk gelanggang dengan modal yang mantap. Dia didukung 34 kursi DPRD (16 Golkar, enam PDI-P, lima Partai Bintang Reformasi, dan satu Partai Patriot). Dengan modal 49,07% kekuatan politik, ternyata tidak cukup mengantarkan Serinata kembali menjabat.

Dia kalah telak dari pasangan Tuan Guru KH Zainul Majdi-Badrul Munir. Kedua kandidat ini dicalonkan PKS dan Partai Bulan Bintang. Masing-masing memberikan dukungan enam kursi. Dengan modal 21,81% kekuatan politik, Zainul Majdi, 36 tahun, berhasil menjadi gubernur termuda di Indonesia.

Enggartiasto Lukita, Koordinator Wilayah Bali, NTB, dan NTT DPP Partai Golkar, terkejut atas hasil pilkada NTB itu. Namun Golkar menerima kenyataan politik ini. “Karena sudah kehendak rakyat, ya, sudah,” katanya. Meski demikian, pihaknya optimistis, kekalahan di pilkada itu tidak akan berpengaruh pada perolehan suara Pemilu 2009.

“Kasus kekalahan di NTB tidak berarti didukung oleh partai semacam Golkar dan PDI-P lalu kalah, tapi itu lebih pada persoalan figur yang tidak populer,” ujar Jusuf Kalla. Dia menegaskan, kekalahan calon gubernur dari Partai Golkar dan PDI-P dalam pilkada NTB itu bukan karena faktor parpolnya.

Repotnya, sebagai parpol, citra Golkar juga tengah terpuruk. Semua itu terjadi karena Golkar dianggap ikut andil dalam naiknya harga BBM, yang mengakibatkan kehidupan rakyat makin sulit. Di parlemen, Golkar adalah fraksi yang mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah, mulai kebijakan impor beras sampai yang terbaru, pengurangan subsidi BBM. “Publik tidak suka pada pemerintah,” kata Denny J.A., Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia, kepada Cavin R. Manuputty dari Gatra.

Meski demikian, Golkar terus berusaha memoles citra lewat kampanye di media massa. “Kami mengurangi kampanye yang bersifat arak-arakan,” kata Jusuf Kalla. Untuk menghadapi kampanye panjang itu, partai beringin ini menyiapkan dana Rp 200 milyar. “Itu perkiraan saja,” katanya.

Salah satu alokasi dana itu untuk memoles citra partai. “Itu sudah kami estimasikan berapa untuk pencitraan partai, kampanye, termasuk persiapan logistik,” kata Rully Chairul Azwar, Wakil Sekjen Partai Golkar. Namun tidak tertutup kemungkinan ada tambahan untuk keperluan pencalegan. Alokasi itu cenderung dikeluarkan para caleg (calon anggota legislatif). “Besarnya sesuai dengan kemampuan masing-masing,” ujarnya.

Menurut Priyo Budi Santoso, Ketua Fraksi Golkar di DPR, meskipun Partai Golkar tengah membangun citra, dia tidak mau terjebak pada kampanye seperti partai-partai lain. Bahkan tak mau memamerkan foto-foto calon yang akan diusung partai. “Kesantuan politik kami tidak mau berbuat demikian, tapi kami sangat mengormati keputusan partai lain yang berbuat demikian,” katanya.

Jusuf Kalla menegaskan bahwa kampanye Partai Golkar berbeda dari partai lainnya. “Kalau yang lain akan begini-begini, saya dengan kerja. Kalau kerja baik, maka orang akan memilih kami,” ujarnya.

Rohmat Haryadi, Basfin Siregar, M. Nur Cholish Zaein, dan Anthony Djafar
[Laporan Utama, Gatra Nomor 36 Beredar Kamis, 17 Juli 2008]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: