DPRa PKS Beji

Bersih Peduli Professional

Ongkos Mahal Menuju Senayan

Posted by pksbeji pada Juni 30, 2008

Republika – Senin, 30 Juni 2008 – Berniat jadi wakil rakyat di Senayan? Mungkin, sebaik nya niat Anda di tunda dulu, sebelum Anda punya ‘modal’ besar di saku celana Anda.

Dalam proses politik di Indonesia, un tuk menjadi anggota legislatif, ternyata tidaklah cukup kalau hanya berbekal kecakapan berpolitik, aspiratif, apalagi hanya kerelaan mengabdi pada masya ra kat. Semua itu tak ada artinya kalau tak punya uang untuk modal bersaing di pemilihan umum (Pemilu) legislatif. Me mang, tak semua anggota DPR mengeluarkan uang besar, tapi mayoritas membutuhkan biaya yang sangat besar.

Anggota DPR dari Partai Amanat Na sio nal (PAN), Deddy Djamaluddin Ma lik, mengaku, pada Pemilu 2004 lalu, dirinya menghabiskan sekitar Rp 270 juta dalam proses pencalegannya. Angka ini bisa dikatakan relatif sangat kecil untuk caleg nomor urut satu di daerah pemilihan (dapil) yang hampir dipas ti kan mendapatkan kursi DPR.

Bandingkan dengan caleg dari Partai Bintang Reformasi (PBR), Agus Cahyo, yang sudah mengeluarkan Rp 30 juta, tapi gagal menjadi anggota DPR. Waktu itu, Agus ditempatkan sebagai caleg nomor urut dua di Dapil III Jawa Timur, meliputi daerah Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi. Tentu, peluang Agus sangat kecil, mengingat daerah itu merupakan basis PKB dan PDIP. Terlebih, dia hanya menempati nomor urut dua.

Dana sebesar Rp 30 juta tersebut habis hanya untuk kegiatan dua kali kampanye. ‘’Sekitar Rp 15 juta, saya gunakan untuk membuat kaos dan bendera. Sisa nya untuk kegiatan penggalangan massa,’‘ ujar Agus. Malahan, dalam kampanye itu, Agus sudah bekerja sama dengan caleg-caleg PBR tingkat nasional serta caleg tingkat provinsi/kabupaten kota. Agus hanya bis a berkampanye sebanyak dua kali ka rena sudah tidak memiliki dana lagi. Sehingga, ia hanya berharap keajaiban dan popularitas Zainuddin MZ saja.

Berkaca dari Agus Cahyo, tentu yang dikeluarkan Deddy Djama luddin Malik bisa dikatakan masih relatif kecil. Malahan, ada yang menghamburkan Rp 1 miliar, tapi tetap tidak menjadi anggota DPR. ‘’Ada calon (caleg) dari salah satu partai yang mengeluarkan dana lebih dari Rp 1 miliar, tapi tidak jadi. Padahal, ia menjadi calon nomor satu. Memang, kampanyenya waktu itu ramai sekali, tapi tidak jadi,’‘ papar Deddy.

Biaya yang relatif kecil di Pemilu 2004 lalu, menurut pengakuan Deddy, disebabkan ia baru mengeluarkan biaya setelah masuk masa kampanye. Sehingga, ia tidak mengeluarkan dana untuk kepentingan, selain pada saat kampanye. Dana Rp 270 juta itu hanya digunakan untuk membuat atribut, kaos, PIN, brosur, sosialisasi, dan dialog.

Dijelaskannya, waktu itu kampanye atau sosialisasi caleg relatif waktunya pendek. Setelah penomoran, barulah caleg berkampanye sekitar tiga empat bulan. Tapi, Deddy mengaku sudah cukup dikenal warga Jawa Barat sebab ia sering menulis artikel di sebuah media Jawa Barat dan Republika. Termasuk, ia menjadi host acara talk show Bruk Brak di TVRI Bandung yang merupakan acara dialog kebudayaan.

‘’Saya juga dekat dengan komunitas pedalangan, seperti Asep Sunarya (dalang terkenal di Jawa Barat—Red) dan sebagainya,’‘ terang Deddy. Dengan begitu, ia sudah relatif dikenal di dapilnya.

Gaya kampanye dadakan dengan biaya relatif murah, seperti Pemilu 2004, tampaknya sudah tidak akan didapat Deddy lagi. Pasalnya, dengan kebijakan PAN yang menggunakan suara terbanyak, kantong Deddy Djamaluddin akan banyak tersedot. Terutama, untuk mencari dukungan dan simpati masyarakat di dapilnya.

Dalam waktu dua tahun terakhir, dana yang sudah dikeluarkan Deddy untuk melayani proposal konstituen hampir mencapai 500 juta. Mulai dari permintaan bantuan pembangunan masjid, kegiatan sosial, ataupun kegiatan keagamaan. Belum lagi ditambah anggaran untuk kegiatan yang langsung diselenggarakannya ketika turun ke basis konstituen. Ketika turun ke dapil di masa reses, permintaan pun sangat banyak. Mulai dari permintaan membuat jembatan, masjid, perbaikan jalan, dan sebagainya. Belum lagi keharusan memberikan ‘uang bensin’ bagi mereka yang datang ke kegiatan yang diselenggarakan.

Deddy juga sudah mengeluarkan dana sekitar Rp 500 juta untuk membuat kartu tanda anggota berasuransi. Kartu anggota ini juga merupakan bagian dari upayanya agar bisa terpilih lagi di Pemilu 2009 nanti. Ditambah lagi, anggaran untuk menggerakkan DPC ataupun PAC yang merupakan mesin politik di daerahnya.

Cerita tentang besarnya biaya kampanye juga disampaikan mantan wakil ketua DPR, Zainal Ma’arif. Politikus PBR, yang akhirnya dilengserkan paksa oleh partainya sendiri, mengaku kawannya sesama caleg di Pemilu 2004 sudah menghabiskan lebih dari Rp 1 miliar. Sayangnya, sang kawan tetap tidak lolos menjadi anggota DPR. ‘’Kawan saya itu jauh-jauh hari sudah membina konstituen di dapilnya. Tapi, ketika masuk masa pencalegan, justru ia dipindah dapilnya,’‘ jelas Zainal.

Untuk mendapat dukungan di dapil yang baru, si caleg akhirnya jor-joran mengeluarkan anggaran kampanye. Sayangnya, usaha tersebut sia-sia sehingga amblaslah miliaran rupiah yang sudah dikeluarkannya. Zainal sendiri mengaku hanya menghabiskan Rp 200 juta. Pada Pemilu 2004 lalu, Zainal merupakan salah satu pemegang keputusan dalam pencalegan PBR. Maklum, waktu itu, Zainal merupakan salah satu orang kepercayaan mantan ketua umum PBR, Zainuddin MZ.

Meski berasal dari Solo, Zainal maju sebagai caleg nomor satu di Dapil I Sumatra Utara. ‘’Waktu itu, ada permintaan dari DPW Sumut agar saya mencalonkan diri di sana (Sumut),’‘ kilah Zainal.

Dengan posisi sebagai caleg nomor satu di daerah yang pendukung PBRnya cukup besar, posisi Zainal cukup diuntungkan. Terlebih, ketika itu, kekuatan PBR ada di citra Zainuddin MZ. Bisa dikatakan, tanpa kampanye pun orang di Dapil I Sumut akan memilih PBR karena faktor kebesaran nama Zainuddin MZ dan PPP Reformasi.

Dalam Pemilu 2009 nanti, sistem penetapan calon terpilih tidak banyak berubah. Ketentuan di UU No 10/2008 tentang Pemilu Legislatif, caleg terpilih adalah mereka yang memperoleh 30 persen suara dari bilangan pembagi pemilih (BPP). Jika tidak mencapai 30 persen, akan dikembalikan berdasar nomor urut. Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima), Ray Rangkuti, mengatakan bahwa dengan model seperti itu, nomor urut seorang caleg masih akan sangat menentukan. Semakin ia mendapat nomor urut di atas, peluangnya menjadi lebih besar. ‘’Saya kira, di Pemilu 2009 pun setiap caleg masih akan saling berebut nomor urut satu,’‘ ungkap Ray.

Dengan akan adanya situasi caleg yang berebut nomot urut di atas, menurut Ray, hal ini akan membuat partai memasang tarif tinggi untuk harga kursi di nomor atas. ‘’Jadi, biaya yang akan dikeluarkan tidak hanya untuk kampanye, tapi juga ‘karcis’ untuk mendapat nomor teratas,’‘ katanya.

Ketua Umum DPP Partai Damai Sejahtera (PDS), Ruyandi Hutasoit, membenarkan kalau partainya akan meminta kontribusi dana dari caleg PDS pada Pemilu 2009. ‘’Dana itu nantinya akan digunakan untuk pengadaan perleng kapan dan kebutuhan kampanye,’‘ ungkap Ru yandi. Namun, PDS belum menetapkan besaran dana yang akan diminta dari para caleg. Ruyandi menjelaskan, ketika sudah ditetapkan menjadi caleg, mereka juga harus bekerja keras agar bisa meningkatkan suara PDS. ‘’Jangan hanya nebeng nama saja, terus membiarkan semua dana kampanye dipikul caleg nomor satu,’‘ kata Ruyandi. Dengan cara seperti itu, diharapkan dana kampanye bisa dipikul bersama-sama.

Terkait PBR yang di 2004 belum meminta uang ‘tiket’ ke para calegnya, Agus Cahyo men duga hal itu karena masih kekurangan caleg. Dengan begitu, ia mendapatkan ‘tiket’ gratis untuk bersaing di Pemilu 2004.

Deddy Djamaluddin Malik mengaku sewaktu dicalegkan di Pemilu 2004, partainya tidak memungut biaya apa pun. ‘’Waktu itu, saya tidak punya uang. Malahan, biaya kampanye saya saja dibantu Pak Amien Rais. Jadi, kalau harus setor ke partai, dari mana yang punya uang,’‘ kilah Deddy.

Namun, Deddy mengakui kalau banyak partai yang mewajibkan caleg memberikan kontribusi dana bagi partai. ‘’Saya dengar, salah satu partai terbesar sudah meminta ‘uang tiket’ pencalonan 2009 sebesar Rp 1 miliar. Meski, ketika pemilu akan ada kontribusi yang diberikan partai kepada calon,’‘ jelas Deddy sambil menyebut salah satu nama parpol terbesar tersebut.

Deddy mengaku bisa ditempatkan sebagai ca leg nomor satu karena faktor kedekatan dengan Amien Rais. Diceritakannya, persaingan mendapatkan nomor urut satu sangatlah ketat. Setiap ketua DPP mempunyai calon sendirisendiri. Meski kedekatan menjadi salah satu faktor, Deddy menolak pandangan kalau semuanya ditentukan faktor kedekatan. Partai juga tidak ingin calonnya kalah di Pemilu. Karena itu, pimpinan partai tetap mempertimbangkan pengabdian ke partai, ketepatan figur, serta ketokohan. Deddy merasa dipilih menjadi caleg nomor satu karena dia salah satu pendiri PAN Jawa Barat. Selain itu, dibanding figur lain, Deddy dianggap punya sisi istimewa lain, yaitu sebagai figur intelektual kampus.

‘’Kalau hanya kedekatan, banyak figur yang dekat dengan Pak Amien. Tapi, tidak jadi.’‘ Dijelaskannya, waktu itu, ada caleg yang sangat dekat dengan Amien Rais. Malahan, ia punya kekuatan finansial, tapi ternyata tidak ditempatkan di nomor jadi.

Sekalipun fenomena caleg harus mengeluarkan uang ‘tiket’ muncul di mayoritas parpol peserta Pemilu, tidak berarti semua parpol melakukannya. Presiden PKS, Tiffatul Sembiring, mengaku kalau partainya tidak memungut sepeser pun uang buat para caleg. ‘’Tapi, mereka kita wajibkan untuk mencari sumbangan bagi kegiatan kampanye mereka sendiri,’‘ tegas Tiffatul. Menurutnya, selama ini, caleg PKS tidak maju secara pribadi. Kader-kader PKS akan saling membantu dengan saling memberi bantuan dana.

Maunya Untung Malahan Buntung

Jadi caleg (calon anggota legislatif) itu bikin saya bangkrut.’‘ Kalimat itu meluncur dari mulut Agus Cahyo sambil tertawa ngakak. Setelah mengelus beberapa kali wajahnya, Agus Cahyo melanjutkan pernyataannya, ‘’Untung saja uang hasil penjualan mobil itu tidak tak pakai semuanya. Ada yang langsung diminta istriku’‘.

Ketika ditetapkan menjadi caleg di Daerah Pemilihan (Dapil) III Jawa Timur, Agus memang tidak punya persiapan. Baik kesiapan jaringan maupun dana. ‘’Waktu itu aku hanya kebetulan saja aku dicalegkan. Jadi, aku coba saja siapa tahu beruntung, eh malah akhirnya buntung,’‘ kata dia.

Begitu menerima kabar dicalegkan PBR, Agus Cahyo mengaku langsung membuat perencanaan dadakan. Mulai dari berkomunikasi dengan DPW di Dapilnya, ia juga mempersiapkan diri mencari sumbangan kampanye. Sayangnya, usaha mencari donatur tidak membuahkan hasil. Maklum, para donatur sepertinya juga melihat kalau peluang mendapat kursi di Dapil itu sangat kecil.

Tak juga mendapatkan donatur, pilihan terakhir Agus adalah melirik ke tabungannya di bank. Ternyata, di tabungan pun besarnya tidak seberapa. Jalan pintas akhirnya ditempuh. Dikeluarkannya mobil starlet kesayangan keluarganya. ‘’Waktu itu saya jual laku Rp 75 juta. Saya gunakan saja sebagian untuk dana kampanye, namanya juga usaha,’‘ ungkap Agus Cahyo.

Sayang usaha Agus Cahyo tidak seperti yang diharapkannya. Tabungan habis, mobil kesayangan melayang, tapi mimpi menjadi anggota DPR tidak kesampaian. ‘’Betul-betul pengalaman yang mahal buat saya,’‘ katanya sambil tersenyum kecut.

Lain cerita Agus Cahyo, lain pula cerita bahagia Deddy Djamaluddin Malik. Sekalipun mengeluarkan Rp 270 juta, tapi ia berhasil menjadi anggota DPR. Malahan ia masih dipercaya partainya untuk menjadi caleg lagi di 2009.

Deddy mengaku ketika Pemilu 2004, ia hanya punya dana sekitar Rp 100 juta. ‘’Sebagai akademisi saya memang tidak punya banyak uang. Makanya ketika pencalonan, banyak yang bisa dikatakan melecehkan saya,’‘ papar Deddy.

Untuk memenuhi biaya kampanyenya, Deddy berhasil mendapat sumbangan dana dari para koleganya. Sumbangan tersebut hanya berasal dari teman-teman dekat Deddy. ‘’Tidak ada yang bersumber dari pengusaha. Salah satu penyumbangnya adalah Pak Amien Rais,’‘ tegasnya.

(joko sadewo )

Sumber : Republika

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: