DPRa PKS Beji

Bersih Peduli Professional

  • Action

    TPPC : HARI KRIDA : Agar seluruh Kader dapat mengenakan atribut setiap Sabtu / Ahad

    Presiden : Ass wr wb, Ikhwan/Akhwat Fillah, Insya Allah Jumat ini 4/07/08 Kita memasuki bulan Rajab. Rasulullah SAW mengajarkan kita berdo'a "Allahumma bariklana fi Rajab wa Sya'ban wabalighna Ramadhan." sebagai DUAT illaLLAH dan kemenangan da'wah 2009, tentu perli I'DAT (persiapan) yang lebih jauh dan matang.

  • Foto Dokumentasi

    ATP bareng FPU RW.03

    ATP bareng FPU RW.03

    ATP bareng FPU RW.03

    ATP bareng FPU RW.03

    ATP bareng FPU RW.03

    ATP bareng FPU RW.03

    ATP bareng FPU RW.03

    ATP bareng FPU RW.03

    ATP bareng FPU RW.03

    More Photos

Arsip untuk Juni, 2008

Ongkos Mahal Menuju Senayan

Ditulis oleh pksbeji di/pada Juni 30, 2008

Republika – Senin, 30 Juni 2008 – Berniat jadi wakil rakyat di Senayan? Mungkin, sebaik nya niat Anda di tunda dulu, sebelum Anda punya ‘modal’ besar di saku celana Anda.

Dalam proses politik di Indonesia, un tuk menjadi anggota legislatif, ternyata tidaklah cukup kalau hanya berbekal kecakapan berpolitik, aspiratif, apalagi hanya kerelaan mengabdi pada masya ra kat. Semua itu tak ada artinya kalau tak punya uang untuk modal bersaing di pemilihan umum (Pemilu) legislatif. Me mang, tak semua anggota DPR mengeluarkan uang besar, tapi mayoritas membutuhkan biaya yang sangat besar.

Anggota DPR dari Partai Amanat Na sio nal (PAN), Deddy Djamaluddin Ma lik, mengaku, pada Pemilu 2004 lalu, dirinya menghabiskan sekitar Rp 270 juta dalam proses pencalegannya. Angka ini bisa dikatakan relatif sangat kecil untuk caleg nomor urut satu di daerah pemilihan (dapil) yang hampir dipas ti kan mendapatkan kursi DPR.

Bandingkan dengan caleg dari Partai Bintang Reformasi (PBR), Agus Cahyo, yang sudah mengeluarkan Rp 30 juta, tapi gagal menjadi anggota DPR. Waktu itu, Agus ditempatkan sebagai caleg nomor urut dua di Dapil III Jawa Timur, meliputi daerah Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi. Tentu, peluang Agus sangat kecil, mengingat daerah itu merupakan basis PKB dan PDIP. Terlebih, dia hanya menempati nomor urut dua.

Dana sebesar Rp 30 juta tersebut habis hanya untuk kegiatan dua kali kampanye. ‘’Sekitar Rp 15 juta, saya gunakan untuk membuat kaos dan bendera. Sisa nya untuk kegiatan penggalangan massa,’‘ ujar Agus. Malahan, dalam kampanye itu, Agus sudah bekerja sama dengan caleg-caleg PBR tingkat nasional serta caleg tingkat provinsi/kabupaten kota. Agus hanya bis a berkampanye sebanyak dua kali ka rena sudah tidak memiliki dana lagi. Sehingga, ia hanya berharap keajaiban dan popularitas Zainuddin MZ saja.

Berkaca dari Agus Cahyo, tentu yang dikeluarkan Deddy Djama luddin Malik bisa dikatakan masih relatif kecil. Malahan, ada yang menghamburkan Rp 1 miliar, tapi tetap tidak menjadi anggota DPR. ‘’Ada calon (caleg) dari salah satu partai yang mengeluarkan dana lebih dari Rp 1 miliar, tapi tidak jadi. Padahal, ia menjadi calon nomor satu. Memang, kampanyenya waktu itu ramai sekali, tapi tidak jadi,’‘ papar Deddy.

Biaya yang relatif kecil di Pemilu 2004 lalu, menurut pengakuan Deddy, disebabkan ia baru mengeluarkan biaya setelah masuk masa kampanye. Sehingga, ia tidak mengeluarkan dana untuk kepentingan, selain pada saat kampanye. Dana Rp 270 juta itu hanya digunakan untuk membuat atribut, kaos, PIN, brosur, sosialisasi, dan dialog.

Dijelaskannya, waktu itu kampanye atau sosialisasi caleg relatif waktunya pendek. Setelah penomoran, barulah caleg berkampanye sekitar tiga empat bulan. Tapi, Deddy mengaku sudah cukup dikenal warga Jawa Barat sebab ia sering menulis artikel di sebuah media Jawa Barat dan Republika. Termasuk, ia menjadi host acara talk show Bruk Brak di TVRI Bandung yang merupakan acara dialog kebudayaan.

‘’Saya juga dekat dengan komunitas pedalangan, seperti Asep Sunarya (dalang terkenal di Jawa Barat—Red) dan sebagainya,’‘ terang Deddy. Dengan begitu, ia sudah relatif dikenal di dapilnya.

Gaya kampanye dadakan dengan biaya relatif murah, seperti Pemilu 2004, tampaknya sudah tidak akan didapat Deddy lagi. Pasalnya, dengan kebijakan PAN yang menggunakan suara terbanyak, kantong Deddy Djamaluddin akan banyak tersedot. Terutama, untuk mencari dukungan dan simpati masyarakat di dapilnya.

Dalam waktu dua tahun terakhir, dana yang sudah dikeluarkan Deddy untuk melayani proposal konstituen hampir mencapai 500 juta. Mulai dari permintaan bantuan pembangunan masjid, kegiatan sosial, ataupun kegiatan keagamaan. Belum lagi ditambah anggaran untuk kegiatan yang langsung diselenggarakannya ketika turun ke basis konstituen. Ketika turun ke dapil di masa reses, permintaan pun sangat banyak. Mulai dari permintaan membuat jembatan, masjid, perbaikan jalan, dan sebagainya. Belum lagi keharusan memberikan ‘uang bensin’ bagi mereka yang datang ke kegiatan yang diselenggarakan.

Deddy juga sudah mengeluarkan dana sekitar Rp 500 juta untuk membuat kartu tanda anggota berasuransi. Kartu anggota ini juga merupakan bagian dari upayanya agar bisa terpilih lagi di Pemilu 2009 nanti. Ditambah lagi, anggaran untuk menggerakkan DPC ataupun PAC yang merupakan mesin politik di daerahnya.

Cerita tentang besarnya biaya kampanye juga disampaikan mantan wakil ketua DPR, Zainal Ma’arif. Politikus PBR, yang akhirnya dilengserkan paksa oleh partainya sendiri, mengaku kawannya sesama caleg di Pemilu 2004 sudah menghabiskan lebih dari Rp 1 miliar. Sayangnya, sang kawan tetap tidak lolos menjadi anggota DPR. ‘’Kawan saya itu jauh-jauh hari sudah membina konstituen di dapilnya. Tapi, ketika masuk masa pencalegan, justru ia dipindah dapilnya,’‘ jelas Zainal.

Untuk mendapat dukungan di dapil yang baru, si caleg akhirnya jor-joran mengeluarkan anggaran kampanye. Sayangnya, usaha tersebut sia-sia sehingga amblaslah miliaran rupiah yang sudah dikeluarkannya. Zainal sendiri mengaku hanya menghabiskan Rp 200 juta. Pada Pemilu 2004 lalu, Zainal merupakan salah satu pemegang keputusan dalam pencalegan PBR. Maklum, waktu itu, Zainal merupakan salah satu orang kepercayaan mantan ketua umum PBR, Zainuddin MZ.

Meski berasal dari Solo, Zainal maju sebagai caleg nomor satu di Dapil I Sumatra Utara. ‘’Waktu itu, ada permintaan dari DPW Sumut agar saya mencalonkan diri di sana (Sumut),’‘ kilah Zainal.

Dengan posisi sebagai caleg nomor satu di daerah yang pendukung PBRnya cukup besar, posisi Zainal cukup diuntungkan. Terlebih, ketika itu, kekuatan PBR ada di citra Zainuddin MZ. Bisa dikatakan, tanpa kampanye pun orang di Dapil I Sumut akan memilih PBR karena faktor kebesaran nama Zainuddin MZ dan PPP Reformasi.

Dalam Pemilu 2009 nanti, sistem penetapan calon terpilih tidak banyak berubah. Ketentuan di UU No 10/2008 tentang Pemilu Legislatif, caleg terpilih adalah mereka yang memperoleh 30 persen suara dari bilangan pembagi pemilih (BPP). Jika tidak mencapai 30 persen, akan dikembalikan berdasar nomor urut. Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima), Ray Rangkuti, mengatakan bahwa dengan model seperti itu, nomor urut seorang caleg masih akan sangat menentukan. Semakin ia mendapat nomor urut di atas, peluangnya menjadi lebih besar. ‘’Saya kira, di Pemilu 2009 pun setiap caleg masih akan saling berebut nomor urut satu,’‘ ungkap Ray.

Dengan akan adanya situasi caleg yang berebut nomot urut di atas, menurut Ray, hal ini akan membuat partai memasang tarif tinggi untuk harga kursi di nomor atas. ‘’Jadi, biaya yang akan dikeluarkan tidak hanya untuk kampanye, tapi juga ‘karcis’ untuk mendapat nomor teratas,’‘ katanya.

Ketua Umum DPP Partai Damai Sejahtera (PDS), Ruyandi Hutasoit, membenarkan kalau partainya akan meminta kontribusi dana dari caleg PDS pada Pemilu 2009. ‘’Dana itu nantinya akan digunakan untuk pengadaan perleng kapan dan kebutuhan kampanye,’‘ ungkap Ru yandi. Namun, PDS belum menetapkan besaran dana yang akan diminta dari para caleg. Ruyandi menjelaskan, ketika sudah ditetapkan menjadi caleg, mereka juga harus bekerja keras agar bisa meningkatkan suara PDS. ‘’Jangan hanya nebeng nama saja, terus membiarkan semua dana kampanye dipikul caleg nomor satu,’‘ kata Ruyandi. Dengan cara seperti itu, diharapkan dana kampanye bisa dipikul bersama-sama.

Terkait PBR yang di 2004 belum meminta uang ‘tiket’ ke para calegnya, Agus Cahyo men duga hal itu karena masih kekurangan caleg. Dengan begitu, ia mendapatkan ‘tiket’ gratis untuk bersaing di Pemilu 2004.

Deddy Djamaluddin Malik mengaku sewaktu dicalegkan di Pemilu 2004, partainya tidak memungut biaya apa pun. ‘’Waktu itu, saya tidak punya uang. Malahan, biaya kampanye saya saja dibantu Pak Amien Rais. Jadi, kalau harus setor ke partai, dari mana yang punya uang,’‘ kilah Deddy.

Namun, Deddy mengakui kalau banyak partai yang mewajibkan caleg memberikan kontribusi dana bagi partai. ‘’Saya dengar, salah satu partai terbesar sudah meminta ‘uang tiket’ pencalonan 2009 sebesar Rp 1 miliar. Meski, ketika pemilu akan ada kontribusi yang diberikan partai kepada calon,’‘ jelas Deddy sambil menyebut salah satu nama parpol terbesar tersebut.

Deddy mengaku bisa ditempatkan sebagai ca leg nomor satu karena faktor kedekatan dengan Amien Rais. Diceritakannya, persaingan mendapatkan nomor urut satu sangatlah ketat. Setiap ketua DPP mempunyai calon sendirisendiri. Meski kedekatan menjadi salah satu faktor, Deddy menolak pandangan kalau semuanya ditentukan faktor kedekatan. Partai juga tidak ingin calonnya kalah di Pemilu. Karena itu, pimpinan partai tetap mempertimbangkan pengabdian ke partai, ketepatan figur, serta ketokohan. Deddy merasa dipilih menjadi caleg nomor satu karena dia salah satu pendiri PAN Jawa Barat. Selain itu, dibanding figur lain, Deddy dianggap punya sisi istimewa lain, yaitu sebagai figur intelektual kampus.

‘’Kalau hanya kedekatan, banyak figur yang dekat dengan Pak Amien. Tapi, tidak jadi.’‘ Dijelaskannya, waktu itu, ada caleg yang sangat dekat dengan Amien Rais. Malahan, ia punya kekuatan finansial, tapi ternyata tidak ditempatkan di nomor jadi.

Sekalipun fenomena caleg harus mengeluarkan uang ‘tiket’ muncul di mayoritas parpol peserta Pemilu, tidak berarti semua parpol melakukannya. Presiden PKS, Tiffatul Sembiring, mengaku kalau partainya tidak memungut sepeser pun uang buat para caleg. ‘’Tapi, mereka kita wajibkan untuk mencari sumbangan bagi kegiatan kampanye mereka sendiri,’‘ tegas Tiffatul. Menurutnya, selama ini, caleg PKS tidak maju secara pribadi. Kader-kader PKS akan saling membantu dengan saling memberi bantuan dana.

Maunya Untung Malahan Buntung

Jadi caleg (calon anggota legislatif) itu bikin saya bangkrut.’‘ Kalimat itu meluncur dari mulut Agus Cahyo sambil tertawa ngakak. Setelah mengelus beberapa kali wajahnya, Agus Cahyo melanjutkan pernyataannya, ‘’Untung saja uang hasil penjualan mobil itu tidak tak pakai semuanya. Ada yang langsung diminta istriku’‘.

Ketika ditetapkan menjadi caleg di Daerah Pemilihan (Dapil) III Jawa Timur, Agus memang tidak punya persiapan. Baik kesiapan jaringan maupun dana. ‘’Waktu itu aku hanya kebetulan saja aku dicalegkan. Jadi, aku coba saja siapa tahu beruntung, eh malah akhirnya buntung,’‘ kata dia.

Begitu menerima kabar dicalegkan PBR, Agus Cahyo mengaku langsung membuat perencanaan dadakan. Mulai dari berkomunikasi dengan DPW di Dapilnya, ia juga mempersiapkan diri mencari sumbangan kampanye. Sayangnya, usaha mencari donatur tidak membuahkan hasil. Maklum, para donatur sepertinya juga melihat kalau peluang mendapat kursi di Dapil itu sangat kecil.

Tak juga mendapatkan donatur, pilihan terakhir Agus adalah melirik ke tabungannya di bank. Ternyata, di tabungan pun besarnya tidak seberapa. Jalan pintas akhirnya ditempuh. Dikeluarkannya mobil starlet kesayangan keluarganya. ‘’Waktu itu saya jual laku Rp 75 juta. Saya gunakan saja sebagian untuk dana kampanye, namanya juga usaha,’‘ ungkap Agus Cahyo.

Sayang usaha Agus Cahyo tidak seperti yang diharapkannya. Tabungan habis, mobil kesayangan melayang, tapi mimpi menjadi anggota DPR tidak kesampaian. ‘’Betul-betul pengalaman yang mahal buat saya,’‘ katanya sambil tersenyum kecut.

Lain cerita Agus Cahyo, lain pula cerita bahagia Deddy Djamaluddin Malik. Sekalipun mengeluarkan Rp 270 juta, tapi ia berhasil menjadi anggota DPR. Malahan ia masih dipercaya partainya untuk menjadi caleg lagi di 2009.

Deddy mengaku ketika Pemilu 2004, ia hanya punya dana sekitar Rp 100 juta. ‘’Sebagai akademisi saya memang tidak punya banyak uang. Makanya ketika pencalonan, banyak yang bisa dikatakan melecehkan saya,’‘ papar Deddy.

Untuk memenuhi biaya kampanyenya, Deddy berhasil mendapat sumbangan dana dari para koleganya. Sumbangan tersebut hanya berasal dari teman-teman dekat Deddy. ‘’Tidak ada yang bersumber dari pengusaha. Salah satu penyumbangnya adalah Pak Amien Rais,’‘ tegasnya.

(joko sadewo )

Sumber : Republika

 

Ditulis dalam Berita Media | Leave a Comment »

PKS: Angket Pertaruhkan Citra DPR

Ditulis oleh pksbeji di/pada Juni 30, 2008

INILAH.COM, 30/06/2008 10:39 – Jakarta – Penggunaan hak angket soal kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai akan mempertaruhkan citra DPR sebagai wakil rakyat. Jika dijalankan untuk membongkar mafia BBM dari hulu ke hilir, ini akan memulihkan kepercayaan publik terhadap lembaga ini.

Anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) Al Muzzammil Yusuf mengatakan, hak angket DPR soal kenaikan harga BBM juga bisa menjadi ukuran penting tentang baik-buruknya wajah atau citra DPR saat ini. “Minimal akan bisa memperbaiki kebijakan energi ke depan, baik yang terkait dengan BBM, gas, panas bumi, batu bara dan lain-lain,” katanya di Jakarta, Senin (30/6).

Menurut dia, jika angket BBM menghasilnya sesuatu yang signifikan seperti sikap DPR yang kritis dan hasilnya konstruktif untuk memperbaiki kebijakan energi nasional, maka akan memperbaiki citra DPR secara umum. Akan tetapi kata, jika hak angket itu malah dimanfaatkan untuk sekadar position bargaining (posisi tawar) fraksi-fraksi dengan pemerintah guna kepentingan yang sempit kedua belah pihak, maka akan merusak citra DPR secara keseluruhan.

“Kita tak berharap hal ini terjadi. Karena ini bisa mendorong frustasi nasional, yang bisa menyulut kemarahan publik, sehingga mengancam Pemilu 2009 yang sudah sangat dekat,” kata Ketua Departemen Politik dan Pertahanan DPP PKS yang juga anggota Komisi I DPR tu.

Sementara itu, secara terpisah, anggota FPKS lainnya, Wahyudin Munawir, mendesak pemerintah agar menyatakan kondisi ‘darurat energi’, mengingat problem kelistrikan yang semakin parah, implikasi kenaikan minyak mentah internasional dan BBM yang membuat kehidupan ekonomi bangsa semakin terpuruk. “Jelas ini harus dievaluasi dan diperbaiki,” katanya.

Harga minyak dunia mulai melesat menembus batas US$ 140 per barel untuk pertama kalinya pada Kamis (26/6) pekan lalu. Pada Senin (30/6), harga minyak dunia diperdagangkan di atas US$ 141 per barel, menyusul rekor baru pada Jumat (27/6) pada US$ 142,99 per barel. Kenaikan harga minyak, yang sudah mencapai dua kali lipat dalam setahun terakhir sangat mengkhawatirkan pertumbuhan ekonomi dunia. [*/P1]

Sumber: Inilah.com

 

Ditulis dalam Berita Media | Leave a Comment »

PKS Ajukan Capres Balita

Ditulis oleh pksbeji di/pada Juni 29, 2008

INILAH.COM, 27/06/2008 00:07 – Jakarta – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terus melakukan inovasi politik menjelang Pemilu 2009. Di tengah kasak-kusuk parta-partai lain dalam pencalonan anggota legislatif, PKS terus melaju dengan gagasan-gagasan yang mengejutkan. Kamis (26/6), DPP PKS meluncurkan Calon Anggota Dewan (CAD). Menurut Presiden PKS Tifatul Sembiring, dengan peluncuran calon anggota legislatif ini, diharapkan publik dapat mengenal jauh-jauh hari sosok caleg yang diusung PKS.

Selain membincangkan peluncuran caleg PKS, Tifatul juga menyebutkan kriteria capres yang diusung pada 2009 mendatang. “Kita gaungkan pemimpin ‘balita’ (di bawah lima puluh tahun), agar ada perubahan di negeri ini,” tegasnya. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Kenapa jauh-jauh hari PKS sudah mengenalkan caleg ke publik?

Dengan ini masyarakat agar lebih mengenal sosok-sosok yang ditawarkan PKS. Saya perlu garis bawahi bahwa PKS tidak hanya menawarkan figur semata, namun dengan program dan kebersamaan tim. Kita harus mengubah negara ini dari korupsi menjadi antikorupsi. Dari kemiskinan menjadi kesejahteraan, dari kebodohan menjadi orang-orang yang terdidik.

Bagaimana cara PKS memilih caleg PKS?

Rekutmen caleg PKS sebagain daerah dengan pemilihan raya internal. Ada sekitar 30% orang eksternal yang kita pasang. Ini adalah aspirasi dari DPD dan DPW, kemudian diusulkan ke pusat. Selama prosedur itu ditempuh. insya Allah kita (DPP) menerimanya.

Berapa total caleg yang akan diusung PKS, termasuk komposisinya?

Komposisi perempuan sampai kini sebesar 36%. Pada 2004 juga PKS paling banyak mencalokan caleg perempuan, yaitu sebesar 39%. Komposisi saat ini masih ada rekrutmen lanjutan, paling tidak Calon Anggota Dewan (CAD) sebelum didaftarkan akan ada penambahan caleg. Sedangkan dari komposisi umur, paling banyak 35-35 tahun, karena kita mencanangkan program pemipin ‘balita’, yaitu di bawah lima puluh tahun. Termasuk capresnya juga diusulkan yang balita. Dari sisi anggota dewan yang sekarang, kita baru punya 45, kita butuh pengalaman mereka juga, makanya hampir 70% dari mereka kita pertahankan untuk kembali kita calonkan, walaupun tidak di nomor urut satu semua.

Bagaimana dengan target perolehan suara 20%, apa ini tidak terlalu percaya diri?

Analisis kami di DPP, tidak ada partai-partai yang lebih dari 25%. Kalau bahasa kyai-nya itu kita masih musyrakah (koalisi). Angka 20% adalah tiga kali lipat dari perolehan 2004. Namanya target, kita harus optimis. Namun, jika melihat dari fakta-fakta, misalnya dalam Pilkada DKI, meski tidak berhasil menjadi gubernur, PKS jalan sendiri mendapat dukungan 42,5%. Jadi dari 24% di Pemilu 2004 merujuk perolehan pilkada DKI, PKS sudah meningkat. Di Jawa Barat juga demikian. Calon kita mendapat dukungan 40%, walaupun kita berkoalisi dengan PAN. Di Sulawesi Utara juga demikian. Jadi dari 94 pilkada yang dimenangkan PKS dari 154 yang PKS berpartisipasi ikut mencalonkan, itu rata-rata mendapat dukungan di atas 30%. Ya malu juga, kalau kita naikkan menjadi 30%. Paling tidak, kita targetkan 20%. Jadi PKS bukan PD ya, tapi PA (Percaya Allah).

Untuk menghindari ganjalan dalam pengusungan caleg, seperti sejumlah calon PKS yang tersandung oleh kasus hukum seperti dalam Pilkada Jawa Tengah kemarin, bagaimana mengantisipasinya di calon legsilatif ini?

Jadi semua calon yang diusulkan dari daerah ini, harus lolos scan dari Dewan Syariah baik di tingkat wilayah maupun pusat. Dewan Syariah ini adalah dewan yudikatif di internal PKS. Jadi kalau mereka bermasalah secara moral, maka secara otomatis akan gugur.

Berapa caleg yang diusung?

Yang saya teken kemarin, untuk pusat sebanyak 314 orang. Walaupun target kita sebanyak 145 kursi DPR RI.

Berapa jumlah dana yang dibutuhkan setiap caleg dalam pemilu legislatif?

Kalau dana, sesuai kemampuan masing-masing. Tapi kalau dalam hitungan kami, minimalnya per orang menghabiskan sekitar Rp 300 juta. Tapi di PKS, bukan orang yang bekerja secara individu tapi tim kerja. Kami punya prinsip shunduquna juyubuna (kantong kami adalah kas kami sendiri).

Bagaimana kebijakan DPP PKS terhadap kader yang diusung oleh partai lain dalam pilpres mendatang?

Insya allah tidak ada.

Bagaimana kriteria capres 2009 menurut PKS?

Yang penting adalah kriterianya. Saya dulu mengatakan persoalan bangsa ini adalah bagaimana bangsa ini tidak bodoh, tidak miskin, kelaparan, tidak menganggur.

Siapa yang bisa menyelesaikan ini?

Saya juga mengusulkan usia capres di bawah lima puluh tahun. Karena Soekarno, Soharto, di bawah lima puluh tahun. Bahkan Obama anginnya datang ke Indonesia, usianya 46 tahun. Jadi ini harus kita gaungkan, supaya ada perubahan. Ayo kita pikirkan ini. Kalaupun PKS sharing, ada yang terbaik, ayo monggo. PKS bisa saja mendukung. Tapi kalau PKS mendapat 20% dalam pemilu legislatif 2009, maka akan mengusung capres/cawapres kader sendiri. [P1]

Sumber: inilah.com

Ditulis dalam Berita Media | Leave a Comment »

PKS Rebut Simbol Islam PPP

Ditulis oleh pksbeji di/pada Juni 27, 2008

Parpol Adu Kreatif Menjaring Simpati (2-Habis)
Ahluwalia

INILAH.COM, Jakarta – 26/06/2008 23:57 – Islam moderat, muda, bersih, intelek, dan militan. Itu ruh PKS. Dengan itu, mereka terus menggeliat menjaring simpati publik. Dengan itu pula, mereka mampu merebut simbol keislaman PPP.

Sebagai parpol Islam terbesar di era Orde Baru, PPP (Partai Persatuan Pembangunan) kini dilanda kemerosotan citra dan kredibilitas. Kemunculan PKS ternyata bukan hanya mengharubirukan perpolitik nasional, tapi juga menumpulkan ‘pisau’ PPP.

Ketika parpol-parpol lain mengasah persiapan menyongsong pesta demokrasi 2009, termasuk PKS, PPP malah lebih sibuk membersihkan ‘Kader Hitam’ dan para politisinya yang tersangkut masalah hukum.

Ketua Umum DPP PPP Suryadharma Ali pun mengakui itu. Ia mengatakan, PPP memang sedang giat melakukan bersih-bersih di internal organisasinya. Kader PPP yang terbukti melanggar hukum bakal dicopot dari jabatannya.

“PPP begitu sibuk melakukan pembersihan ke dalam karena kriminalitas para kadernya,” kata pengamat politik Islam Al Chaidar.

Langkah itu dilakukan untuk menyelamatkan citra PPP yang menurun akibat banyak kasus hukum yang melilit kadernya.

Suryadharma mengakui, citra PPP sangat terpengaruh oleh pelanggaran hukum sebagian kader. Karena itu, pihaknya harus segera mengambil tindakan tegas untuk menjaga nama baik parpol.

Suryadharma memberikan contoh, Ketua DPW PPP Jambi Al-Amin Nasution yang sudah dinonaktifkan dari jabatannya karena ditahan KPK. Dalam waktu dekat, sejumlah kader di Banten juga akan dijatuhi tindakan tegas karena telah dinyatakan bersalah di pengadilan.

Joko Munandar yang diusung PPP menjadi Gubernur Banten, misalnya, tersangkut kasus korupsi dana perumahan. Lalu, Wakil Bupati Lebak Odih Chudori dihukum karena tertangkap tangan mengkonsumsi narkoba.

Di jajaran legislatif, Ketua DPRD Provinsi Banten Jamaludin Malik yang juga dari PPP, terseret kasus dugaan korupsi dana perumahan. Di Pandeglang, Ketua DPC PPP Kabupaten Pandeglang Wadudi Nurhasan tinggal menunggu fatwa MA terkait dugaan korupsi dana KUT.

Sementara Ketua DPW PPP Provinsi Banten yang juga Bupati Pandeglang sedang bermasalah terkait dana pinjaman Rp 200 miliar dari Bank Jabar.

Rentetan kasus pelanggaran yang menjerat kader-kader PPP itu jelas menggerus kredibilitas parpol. Di mata publik, selain karena parpol belum kunjung menunjukkan semangat baru, kasus-kasus itu jadi faktor yang mengurangi minat dan simpati mereka terhadap PPP.

Semua itu jadi bumerang buat PPP. Karenanya, ketika parpol berbasis Islam lainnya mulai melangkah maju menyesuaikan diri dengan tuntutan modernisasi di era reformasi, PPP justru berkutat dengan problem internalnya.

Kondisi itu, di sisi lain, membuahkan keuntungan tersendiri bagi parpol lain yang sama-sama berbasis Islam. PKS termasuk di dalamnya. Mereka jadi bisa lebih leluasa dalam bermanuver.

Di luar programnya yang memang bagus, PKS pun jadi bisa lebih maksimal merangkul komunitas Islam di perkotaan dan perdesaan yang selama ini dikenal sebagai basis sosial PPP. PKS mampu merebut simbol keislaman PPP dengan cara-cara yang jeli dan progresif.

“PKS bisa jadi tak lagi tertandingi oleh PPP sebagai sesama parpol Islam di Pemilu mendatang,” kata Al Chaidar.

Jika PPP tidak segera berbenah luar dalam, bisa dipastikan mereka bakal makin terbenam di balik geliat PKS yang begitu elegan dan menawan. [Habis/I3]

Sumber: Inilah.com

 

Ditulis dalam Berita Media | Leave a Comment »

PKS Siapkan Pemimpin ‘Balita’ di 2009

Ditulis oleh pksbeji di/pada Juni 27, 2008

Cides usulkan lima capres dari internal Golkar.

Tifatul SembiringJAKARTA – Jumat, 27 Juni 2008 – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mencanangkan Pemimpin ‘Balita’ yaitu pemimpin di bawah lima puluh tahun. Maka, jika punya hak untuk mencalonkan presiden/wakil presiden, PKS akan mengusung capres yang berusia bawah umur 50 tahun.

”Kita membawa isu pemimpin muda di bawah 50 tahun. Ini karena Soekarno dan Soeharto juga memimpin di bawah 50 tahun. Ini harus digaungkan agar ada perubahan,” kata Presiden PKS, Tiffatul Sembiring, disela-sela Launching Nasional Calon Anggota DPR PKS 2009, di Jakarta, (26/6).

Kalaupun tidak mencalonkan capres/cawapres sendiri, lanjut dia, PKS juga siap sharring dengan partai politik (parpol) lain. ”Ayo kita lakukan. PKS siap mendukung. Tapi kalau PKS mendapat 20 persen, PKS akan mengajukan capres/cawapres sendiri,” papar Tiffatul.

Disinggung tentang apakah PKS bisa merelakan kalau kadernya dipinang parpol lain, Tiffatul menegaskan, pihaknya tidak akan menyetujuinya. Terkecuali kalau pencalonan tersebut memang disetujui bersama PKS. ”Kita akan memutuskan satu suara. Khawatir kayak yang terjadi di Partai Golkar sekarang,” tandasnya.

Sementara dalam pengajuan calon anggota legislatif (caleg) di 2009, PKS menyiapkan 314 orang yang akan maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) di 2009. Meski target PKS hanya 135 orang. Dalam pencalegan di Pemilu 2009, PKS mengakomodasi 36 persen keterwakilan perempuan. Dari segi komposisi umur, lanjut Tifatul, caleg yang diusung PKS sebagian besar berumur 35 hingga 45 tahun. Langkah ini ditempuh karena PKS mencanangkan memang sangat serius mewacanakan kepemimpinan muda di bawah lima puluh tahun.

Mengenai anggota DPR yang masih dipertahankan, Tiffatul mengatakan, hampir 75 persen anggota DPR 2004 masih dicalonkan lagi di 2009. Meski mereka tidak dinomor urut satu semua. Tak mau kalah dengan PKS, partai berbasis massa umat Katolik, yakni Partai Damai Sejahtera (PDS) juga bersiap mengikuti Pemilu 2009. Ketua Umum PDS, Ruyandi Hutasoit, mengatakan, partainya akan mengakomodasi caleg muslim. Apalagi, PDS merupakan partai nasional sehingga membuka ruang bagi umat lain. Termasuk dari Muslim, Budha, maupun Hindu.

”Dalam proses pencalegan PDS tidak akan membedakan persoalan umur. Siapapun yang mempunyai kapasitas layak untuk dicalonkan akan diberi kesempatan maju. Sebab, jika harus dibatasi umur itu bisa menjadi diskriminatif,” kata Ruyandi.

Capres Cides

Center for Information and Development Studies (Cides) menilai setidaknya lima nama di internal Partai Golkar layak menjadi bakal calon presiden untuk periode 2009-2014.

Dua di antaranya duduk sebagai eksekutif partai serta tiga lainnya merupakan Dewan Penasihat DPP Golkar. Mereka adalah Jusuf Kalla, HR Agung Laksono, Surya Paloh, Letjen TNI (Pur) Prabowo Subianto, dan Sri Sultan Hamengkubuwono X.

”Kelima nama itu bukan saja pantas dipersiapkan Golkar sebagai bakal calon presiden, namun kelimanya juga memiliki bobot ketokohan yang besar berikut pengakuan publik nasional, sehingga bisa dijual pada Pilpres 2009,” kata Direktur Eksekutif CIDES, Syahganda Nainggolan.

Syahganda menyatakan, selaku partai besar Golkar tidak boleh berdiam diri terlalu lama, guna memastikan siapa sebenarnya yang pantas dimunculkan sebagai capres/cawapres. Apalagi, mengingat pemilu legislatif maupun pemilu presiden kini semakin dekat. dwo/uba

Sumber: Republika

 

Ditulis dalam Berita Media | Leave a Comment »

Adhyaksa-PKS: Cukup SMS

Ditulis oleh pksbeji di/pada Juni 26, 2008

Parpol Adu Kreatif Menjaring Simpati (1)
Ahluwalia

AdyaksaINILAH.COM – 26/06/2008 18:41 – Jakarta – Menyongsong pesta demokrasi 2009, sederet parpol saling adu kreativitas menjaring simpati publik. Geliat kebangkitan PDI-P, misalnya, kini dibayangi gelombang penggalangan kader PKS lewat metode SMS.

Adalah Adhyaksa Dault, kader PKS (Partai Keadilan Sejahtera) dan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), yang tak henti-henti mendorong parpolnya untuk merebut kemenangan di Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009.

Salah satu kiat Adhyaksa terbilang sederhana tapi cukup mengena, yakni memanfaatkan teknologi layanan pesan singkat dengan daya jangkau luas. Ia menyatakan, dengan SMS pihaknya bisa mendorong ribuan kader dalam upaya membangun jaringan sosial.

Metode SMS itu dipraktikkan Adhyaksa ketika mendukung proses memenangkan duet Ha-De di Pilkada Provinsi Jawa Barat.

“Hanya dengan SMS pula kami melakukan milad PKS di Senayan. Ribuan massa hadir di sana. Boleh jadi baru PKS yang menjalankan metode ini,’’ kata Adhyaksa.

Pengamat politik M Qodari dari Indo Barometer menegaskan, apa yang dikatakan Adhyaksa memang sudah terbukti. ”Komunitas PKS termasuk kelas menegah. Mereka melek iptek dan politik,” tukasnya.

Dengan realitas seperti itu, menurut Qodari, PKS sangat siap maju ke gelanggang Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009.

“Saya kira PKS paling siap. Ini bukan mengklaim. Kaderisasi kaum muda terpelajar telah membuat basis sosial PKS makin kokoh. PKS punya kader muda, usia 20-40-an, pemimpin masa depan Indonesia,’’ jelas Adhyaksa, Doktor lulusan IPB.

Dalam persepsi Adhyaksa, dikotomi antara generasi muda dan tua yang berhak memimpin bangsa Indonesia masih jadi perdebatan. ‘’Saya ingin terbebas dari dikotomi itu. Yang perlu kami cari adalah benang merah antara generasi tua dan kaum muda,” ujarnya.

Sebagai salah seorang di antara kader muda PKS, Adhyaksa mengakui, banyak hal positif dari para pemimpin bangsa di masa lalu.’’Hal-hal yang positif bisa diperbarui. Sisi negatifnya jangan dipakai,’’ tegasnya.

Sebagaimana Megawati Soekarnoputri (PDI-P) dan M Jusuf Kalla (Golkar), Adhyaksa juga mengakui bahwa tak semua pemimpin di masa lalu buruk atau hanya meninggalkan cacat sejarah.

Pemimpin bangsa di masa lalu tetap memiliki sisi positif yang selayaknya terus dikembangkan. Adhyaksa menyebutkan, semangat nasionalisme Soekarno-Hatta, Sjahrir, Natsir sebagai sisi positif yang harus terus diperkuat.

“Calon pemimpin muda saat ini tetap memerlukan referensi dari para pemimpin masa lalu. Kita ambil sisi positifnya dari segala apa yang pernah terjadi di masa lalu,” cetus Adhyaksa.

Karena itu, Adhyaksa pun memprediksi, jika pemerintahan SBY-JK bisa selesai sampai 2009, masa depan demokrasi Indonesia akan lebih baik. Tidak ada lagi pemikiran untuk menurunkan pemerintah dengan cara inkonstitusional. ”Mari kita lupakan sisi negatif para pemimpin masa lalu,” tandasnya.

Adhyaksa mengingatkan, bangkitnya gerakan kaum muda saat ini bukan bertujuan mencari kesalahan generasi tua. ”Kaum muda harus bergerak karena panggilan sejarah,” tambahnya.

Untuk 2009, Adhyaksa berharap ada tokoh dari kalangan muda yang berani maju menjadi calon presiden.

Adhyaksa sendiri tercatat sebagai tokoh muda terpopuler versi poling Reform Institute pimpinan Yudi Latief PhD. Bahkan, berbagai kalangan menilai mantan Ketua Umum KNPI itu layak menjadi cawapres pada 2009. [Bersambung/I3]

Sumber : Inilah.com

 

Ditulis dalam Berita Media | Leave a Comment »

Caleg PKS Harus Lolos Scan Dewan Syariah

Ditulis oleh pksbeji di/pada Juni 26, 2008

Windi Widia Ningsih
 
Tifatul SembiringINILAH.COM – 26/06/2008 20:02 – Jakarta – Untuk menghindari masuknya caleg bermasalah, KS punya kiatnya. Semua calon harus lebih dulu lolos scan Dewan Syariah. Kalau moralnya buruk, dijamin tidak bisa lolos.

“Semua calon yang diusulkan daerah harus lolos scan Dewan Syariah, baik di tingkat wilayah maupun pusat. Itu merupakan lembaga yudikatif di PKS. Jadi kalau mereka bermasalah secara moral, itu otomatis akan gugur,” kata Presiden PKS Tifatul Sembiring di Jakarta, Kamis (26/6).

Ditegaskan dia, tidak ada permintaan maupun pemungutan dana kepada para caleg PKS. “Yang penting tim ini dapat bekerja, tapi mereka harus mencari dana untuk membiayai kampanyenya sendiri. Jadi tidak ada setoran-setoran di PKS,” tegasnya.

Dituturkan dia, dirinya sudah meneken 314 caleg untuk pusat, walaupun targetnya 135 orang. Ketua MPR Hidayat Nurwahid disebutkan Tifatul dicalonkan di daerah Klaten, Jawa Tengah.

“Kalau caleg perempuan ada 36 persen. Tahun 2004 PKS paling banyak menyalonkan perempuan sebanyak 39 persen. Dari segi umur yang paling banyak usianya 35-45 tahun,” urai Tifatul.[L3]

Sumber: Inilah.com

 

Ditulis dalam Berita Media | Leave a Comment »

Hidayat: Pemimpin Harus Mengerti Umat

Ditulis oleh pksbeji di/pada Juni 25, 2008

25/06/2008 05:27

HNWINILAH.COM, Pangkalpinang – Ketua MP Hidayat Nurwahid menyatakan, syarat yang harus dimiliki pemimpinan baru adalah mampu membawa perubahan, mampu berkomunikasi dengan umatnya mengunakan bahasa-bahasa yang baik, bukan duduk di menara gading tidak tahu dengan permasalahan keumatan.

“Komunikasi yang hasanah senantiasa mencerahi jiwa umat untuk tetap berkarya secara ikhlas, sebagai mesin pendorong perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik dan tegaknya tatanan sosial,” ujarnya di Pangkalpinang, Selasa (24/6).

Menurut dia, kalau pemimpin tidak turun ke bawah dan mendengar suara rakyatnya maka dia tidak tahu apa yang dirasakan masyarakat. Kebijakan-kebijakannya juga bersifat menghancurkan umat bukan membawa perubahan.

Menurut dia, kepemimpinan umat senantiasa menghadirkan perubahan sepanjang waktu, karena itu seorang pemimpin tidak boleh pesimis karena perannya sebagai mesin pendorong perubahan.

Ia menyatakan, jika pemimpin pesimis, rakyat yang dipimpinnya juga akan pesimis, karena perilaku pemimimpin sebagai gambaran umat atau rakyat yang dipimpinnya apakah akan membawa perubahan untuk kemaslahatan atau sebaliknya membawa kehancuran.

Dalam konteks ini, katanya, peran dakwah sangat menentukan untuk keberhasilan kepemimpinan, karena kepemimpinan itu yang mengelola kemaslahatan umat dan membuka pilihan-pilihan bagi umat agar tidak terjerumus.

Melalui dakwah yang mencerahkan umat sudah tahu mana yang benar dan salah sehinggam pada gilarannya tidak mudah terjebak fitnah. Jadi dakwah merupakan sarana untuk menyampaikan yang benar sekaligus mengoreksi fitnah.[*/L6]

Sumber : Inilah.com

Ditulis dalam Berita Media | Leave a Comment »

Pernyataan Sikap Fraksi PKS DPR RI Terkait Kasus Ahmadiyah dan Bentrokan Monas

Ditulis oleh pksbeji di/pada Juni 6, 2008

Mahfudz SidikFraksi-PKS Online: PKS menyerukan seluruh kader, anggota dan pendukungnya untuk terlibat aktif dalam kegiatan penyadaran kehidupan beragama, meluruskan berbagai penyimpangan ajaran agama dan membangun budaya musyawarah dalam menyelesaikan berbagai perbedaan pendapat dan konflik

  1. Untuk Kasus Ahmadiyah, dalam konteks pengaturan urusan keagamaan umat, negara memiliki instrumen keagamaan MUI yang memiliki otoritas hukum dan kompetensi di bidang syariah. Fraksi PKS akan menghormati setiap pandangan dan rekomendasi yang dihasilkan MUI terkait Ahmadiyah
  2. Pemerintah punya kewenangan hukum melalui aturan perundang-undangan dan mekanisme hukum untuk mengambil keputusan akhir terkait dengan tuntutan pembubaran organisasi Ahmadiyah. Semua pihak harus menyerahkan keputusan akhir kepada pemerintah dan menghormati apa pun keputusan dan kebijakan yang diambil untuk menghindari konflik berkepanjangan. Karena itu Fraksi PKS mendesak Pemerintah untuk segera mengeluarkan keputusan dan kebijakannya.
  3. Semua pihak harus memberi waktu kepada pemerintah dan menahan diri untuk tidak melakyukan aksi-aksi demo (baik pro maupun kontra) dan juga menghentikan segala tindakan – tindakan sepihak terhadap orang Ahmadiyah dan pengikutnya.
  4. Insiden/ Bentrokan Monas harus diproses secara hukum terhadap kedua belah pihak secara adil dan objektif berdasarkan fakta-fakta yang ada. Pemerintah dan semua pihak tidak boleh tergiring untuk melakukan penyikapan sepihak dan berat sebelah sehingga bisa menimbulkan perlawanan balik dari pihak yang merasa dirugikan.
  5. Pimpinan-Pimpinan Ormas dan Parpol Islam hendaknya segera mengambil inisiatif untuk mengendalikan masanya agar tidak melakukan tindakan-tindakan kekerasan terhadap siapa pun dan menjaga persatuan dan perdamaian di kalangan umat serta memperingatkan agar tidak terprovokasi dengan politik adu domba.
  6. PKS menyerukan seluruh kader, anggota dan pendukungnya untuk terlibat aktif dalam kegiatan penyadaran kehidupan beragama, meluruskan berbagai penyimpangan ajaran agama dan membangun budaya musyawarah dalam menyelesaikan berbagai perbedaan pendapat dan konflik. 

Jakarta, 04 juni 2008
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) DPR RI
Ketua,
ttd
Drs. Mahfudz Siddiq, M.Si

sumber: Fraksi-PKS Online

 

Ditulis dalam Parlementaria | Leave a Comment »

Jadikan Buah Lemon itu Minuman yang Manis!

Ditulis oleh pksbeji di/pada Juni 2, 2008

LemonOrang cerdik akan berusaha merubah kerugian menjadi keuntungan. Sedangkan orang bodoh akan membuat suatu musibah menjadi bertumpuk dan berlipat ganda.

Ketika Rasulullah s.a.w. diusir dari mekah, beliau memutuskan untuk menetap di Madinah dan kemudian berhasil membangunnya menjadi sebuah negara yang sangat akrab di telinga dan mata sejarah.

Ahmad bin Hanbal pernah dipenjara dan dihukum dera, tetapi karenanya pula ia kemudian kemudian menjadi imam salah satu madzhab. Ibnu Taimiyyah pernah dipenjara, tetapi justru dipenjara itulah ia banyak melahirkan karya.As-Sarakhsi pernah dikurung di dasar sumur selama bertahun-tahun, tetapi di tempat itulah ia berhasil mengarang buku sebanyak dua puluh jilid. Ketika Ibnul-Atsir dipecat dari jabatannya, ia berhasil menyelesaikan karya besarnya yang berdujul Jami’ul Ushul dan An-Nihayah, salah satu buku paling terkenal dalam hadits. Demikian halnya dengan Ibnul-Jawzy; ia penah diasingkan dari Baghdad, dan karena itu ia menguasai qiraah sab’ah. Malik bin Ar-Raib adalah penderita suatu penyakit yang mematikan, namun ia mampu melahirkan syair-syair yang sangat indah dan tak kalah dengan karya-karya para penyair besar jaman Abbasiyah. Lalu, ketika semua anak Abi Dzuaib Al-Hudzali mati meninggalkan seorang diri, ia justru mampu menciptakan nyanyian-nyanyian puitis yang mampu membekam mulut zaman, membuat setiap pendengarnya tersihir, memaksa sejarah untuk selalu bertepuk  tangan saat mendengarnya kembali.

Begitulah: ketika tertimpa suatu musibah,Anda harus melihat sisi yang paling terang darinya; ketika seseorang memberi Anda segelas air lemon, Anda perlu menambah sesendok gula kedalamnya; ketika mendapat hadiah seekor ular dari orang, ambil saja kulitnya yang mahal dan tinggalkan bagian tubuhnya yang lain: ketika disengat kala jengking, ketahuilah bahwa sengatan itu sebenarnya memberikan kekebalan pada tubuh Anda dari bahaya bisa ular.

Kendalikan diri Anda dalam berbagai kesulitan yang Anda hadapi! Dengan begitu, Anda akan dapat mempersembahkan bunga mawar dan melati yang harum kepada kami. Dan,

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” (QS. Al- Baqarah: 216)

Sebelum terjadi revolosi besar di Perancis, konon negara itu pernah memenjara dua sastrawan terkenalnya. Salah seorang dari keduanya sangat optimis dan yang seorang lagi pesimis bahwa revolosi dan perubahan akan segera terjadi. Setiap hari keduanya sama-sama melongokkan kepala melalui sela-sela jeruji penjara. Hanya saja, sang sastrawan yang optimis selalu memandang ke atas dan melihat bintang-biantang yang germelap di langit. Dan karena itu ia selalu tersenyum cerah. Adapun sastrawan yang pesimis, ia selalu melihat ke arah bawah dan hanya melihat tanah hitam di depan penjara, dan kemudian menangis sedih.

Begitulah, sebaiknya Anda selalu melihat sisi lain dari kesedihan itu. Sebab, belum tentu semuanya menyedihkan, pasti ada kebaikan, secercah harapan, jalan keluar serta pahala.[]

La Tahzan

 

Ditulis dalam Hikmah | Leave a Comment »